“Ayo cepat masuk sebelum suamiku pulang. Tak ada orang yang melihat kan?”
“Anakmu melihat aku mengendap di taman, saat dia membuka jendela”
“Ah tak apa dia hanya idiot yang selalu mengurung diri. Cepat tutup pintunya keburu ada yang melihat!”
Tak sedikitpun kulihat kebencian di matanya, mata sayu dengan balutan senyum yang selalu menghiasi pertemuanku dengannya. Mata yang memancarkan pesona bijak langit sore yang segera merelakan pesona pada gelap malam. Mata yang juga memancarkan keanggunan pantulan matahari dari embun pagi yang sedang bersenggama dengan rumput. Mata yang sama sekali tak pernah menampakkan kebencian dari sorotnya.
Aku yakinkan pada diriku yang sebelumnya tak sadar bahwa hatinya jatuh cinta pada mata yang ada di hadapan raganya, mata yang selalu aku lihat di balik cermin kamar. Aku mengagumi jiwa penghuni mata di balik cermin walau belum pernah kutemui adanya. Jiwa yang aku kira sangat suci, tenang dan bijaksana. Tak seperti aku yang selalu memendam kabencian.
“Aku mencintaimu sayang. Besok pagi datang lagi ya…jangan kesiangan suamiku keburu pulang!”
Pagi hari setelah disibukkan oleh mimpi-mimpi janggal di lelapku. Mimpi yang selalu datang sebagai teror yang terus menggangu tidur malamku. Mimpi yang aku sendiri tak begitu tahu cerita dan alurnya namun terus saja meneror malam-malamku dengan segala ketakutan. Dengan nyawa yang belum utuh terkumpul di raga aku berkesempatan menemuinya. Menemui mata yang setiap pagi memancarkan tatapan yang sama di hadapan cermin. Saat itu aku rasakan sesuata yang janggal bagi sadarku, aku tak merasa diriku seperti manusia ketika menemuinya, mungkin benar bahwa aku bukan manusia, karena aku selalu menyimpan dendam, sepeti setan yang samapi saat ini masih membenci keturunan adam. Pertemuan itu seperti pertemuan setan dengan malaikat, bukan pertemuan aku dan mahluk yang memiliki mata itu. Aku seakan menjelma menjadi setan dengan segala dendam, ia malaikat yang tatapannya tanpa kebencian, tak sedikitpun memancarkan dendam sedangkan cermin berusaha memrankan perannya sebagai manusia yang mempertemukan kita dengan perjumpaan pagi hari.
Pertemuan itu berlangsung tanpa percakapan, tanpa kata, sunyi tak diiringi detak jam yang biasa terdengar di kesunyian. Waktu seakan terhenti kala tajam mataku bertemu dengan bijak tatapnya. Tatapan mata yang mengarungi kedalaman, mengenalkan penghuninya yang entah tak bisa kukenal. Namun aku mengaguminya, entah perasaan apa yang ia rasakan saat ia menatap mataku, menatap mata yang selalu dipenuhi oleh kebencian dan dendam. Pagi-pagi yang lalu mata itu juga menemuiku dengan senyum mengembang, selalu menunggu aku berkedip untuk ia juga membasahi kelopak dengan air matanya. Tapi tidak untuk pagi ini, kurasakan pagi ini terlalu janggal.
Saat tatapan dipertemukan oleh cermin. Ingatanku mengembara ke sesuatu entah yang dalam pada matanya. Aku teringat ibu, ayah, saudara, teman, kekasih, malaikat dan juga bayangan Tuhan. Aku dikendalikan ingatan yang lamat aku kenal.
Mata itu? Mata yang membawa aku pada kenangan sebelum ku kenal dendam.
Ia tetap memandangku saat jiwa mencoba menyelami dengan raga bisu. Tak ada kata, namun hatiku seakan luluh cair oleh tatapan bijak walau dendam terus berusaha menguasaiku. Tubuh yang dipenuhi dendam, kebencian dan rindu tangisan seakan membeku, urat-urat tangan yang menginginkan tangis tak berdaya karena lungkrah.
Diri yang berbatas cermin dengannya seakan jauh berjarak dengan beda yang menganga namun ada ikatan yang membelenggu dan membekukan seluruh nadiku. Ragaku lemah, hanya mataku yang masih berusaha mengarungi tatapnya.
“Wanita gundal, pelacur!!! Pergi saja kau kejalanan bersama kutukan!!! Terkutuk!!!”
“ampun mas…ampun…”
“Sialan kau kotori rumah ini dengan tubuh lelaki yang tak sepantasnya tidur denganmu!!! Terkutuk!! Wanita keparat!!! Kau tak menghargaiku sebagai suami!!”
“Ampuni aku mas…. Aku khilaf….”
“Dasar pelacur!!! Iblis masih lebih setia darimu!”
Embun pagi memancarkan senyum matahari, ramah menyapa bocah lugu yang terus mencari jejak ayahnya setelah malam dijejali ketakutan. Ayah yang hilang, meninggalkan ibu lunglai terkapar di atas ranjang. Isak terdengar dari balik kamar. Mengantar melewati dinding tebal yang akhirnya sampai pada ketakutan bocah yang tak tahu sebab pertengkaran di tengah malam. Suara tangis, jerit, erangan rasa sakit, berisik pukulan, makian, suara tamparan tangan ayah bengis di muka ibu akrap ditelinga bocah lugu yang masih berumur 11 tahun.
Dan pagi yang selalu ditunggu akhirnya menawarkan kasih lewat embun. Embun yang menemani paginya dari balik jendela. Embun yang menghibur bocah dari ketakutan malam yang mencekam. Ketakutan yang sampai kini masih membekas. Ketakutan yang menjelma menjadi mimpi di setiap malam yang selalu hadir sejak ayahnya meninggalkan ibu terkapar di ranjang.
Embun yang memancarkan senyum matahari menjadi satu-satunya teman yang mengakrapinya tiap pagi. Bocah lugu yang belum sempat mendapatkan kasih sayang. Malam-malamnya diusik suara gaduh dari pertengkaran kedua orang tuanya. Dia tak pernah bisa tidur pada malam yang menina bobokkan bocah sebayanya. Ia habiskan malam dengan ketakutan. Sampai akhirnya ia dapat menemui keakrapan embun yang dijumpainya saat ia membuka jendela.
Pagi itu setelah semalaman ia tak dapat menaklukkan mata dengan segala kantuk. Ia kembali membuka jendela kamar untuk menemui embun yang telah menunggu diujung rerumputan. Angin yang saling berebut memasuki kamar lewat begitu saja tanpa permisi malalui jendela yang terbuka, mengedap, menghantam lembut kulit bocah menambah gigil terasa menusuk tulang rapuh. Namun bocah yang selalu merindukan pantulan matahari dari embun tetap memberanikan diri berhadapan dengan dingin yang dikirim oleh angin pagi itu. Ia dengan mata yang menyisakan kantuk karena malamnya dikusai ketakutan, setia menunggu matahari menitipkan senyum kepada embun yang menjaga bocah dari balik kamar.
Sampai akhirnya di pagi itu ia dapat memulai hari dengan pertemuannya dengan senyuman yang dititipkan matahari pada embun. Senyuman yang tak lagi dapat ia temui di malamnya. Senyuman yang selalu ia rindukan dihari yang ia lalui. Bocah itu khusuk memaknai sinar yang dipantulkan oleh embun. Sampai ia terbawa dalam lamunan. Ia tak sadar saat embun memuai dibakar matahari yang tiba-tiba berubah menjadi sosok bengis seperti ayahnya.
“ Dasar anak setan! Kau pasti yang mengadu pada ayahmu! Anak tak tahu diuntung!!”
Setelah ia tersadar di siang yang menikam pagi dengan terik, ia kecewa karena tak lagi menemui embun yang tadi menjaganya. Melalui jendela ia kembali harus mencari jejak yang tak ditinggalkan oleh embun. Jejak yang juga tak ditinggalkan ayah yang sebelumnya juga meninggalkan ibu lunglai dengan tangisan.
Kini tatapan mata dalam cermin menemui paginya, hadir seperti kenangan. Masa lalu yang tiba-tiba mengusik ingatan melalui tajam tatapan yang tak ia ketahui darimana asalnya, namun menyimpan jejak embun dan ayah yang hilang dari masa lalu. Ia teringat dengan embun yang dulu menjaga ketakutan bocah pada malam yang menyiksa. Bocah yang kini tak lagi mengharap kasih sayang. Bocah yang kini tumbuh dan menjelma menjadi aku bersama dendam dan kebencian.
Ia kini menatap masa depannya dengan dendam yang menggumpal di dada maupun di otaknya. Setelah malam itu ia kehilangan semuanya. Dengan langkah rapuh bocah ia beranikan diri untuk meninggalkan semua tentang cerita yang pernah ia alami, tentang embun, ayah, ibu bahkanjendela yang membukakan hidupnya.
Pagi itu didepan cermin jiwa yang diliputi dendam tiba-tiba saja luluh saat berhadapan dengan tatapan yang hadir dan mengendap lewat cermin. Tatapan yang membawa ia kembali pada kenangan. Tatapan yang menyimpan rahasia jejak masa lalu yang ia tinggalkan seperti saat ayah dan embun yang meninggalkannya. Tatapan yang sebenarnya tak asing di masa lalunya. Tapi setelah ia tinggalkan dan lupakan semua kenangan, tatapan itu tak lagi dikenalnya. Ia tak dapat lagi mengingat masa kecil, hanya samar, seperti mimpi yang tak akan jelas terbaca. Yang ia rasakan saat ini tubuhnya mulai membeku karena tatapan itu semakin tajam memasuki dirinya. Sampai ia tak mampu lagi membedakan dia dan bayangannya sendiri.
NB : Mungkin tatapan mata itu adalah mata ibunya, bisa saja itu adalah mata ayahnya atau malah milik lelaki yang menyetubuhi ibunya saat ayahnya pergi. Sampai saat ini dia sang tokoh tak pernah tahu, siapa yang memiliki tatapan yang selalu hadir di pagi saat ia menghadap cermin. Hanya embun yang mungkin akan bercerita di pagi nanti.
2008 /.
Senin, 03 November 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar