Rabu, 17 Desember 2008

puisi

kepada musim
aku rindu kepakan kupu
dedaun ranggas meninggalkan kokoh ranting
aku rindu tentang musim
musim tak pasti dan suka melucu tentang hujan malam hari

kepada meth #1
bintang itu
dengan letak yang tak kuasa kita tata
tak mengerdipkan nyalanya
mengawasi setiap gerak kita yang semakin menjauh
menggores dunia

kepada meth #2
siapkan cahaya kunangkunang
untuk menerangi langkah kekasih
ketika cahaya tak lagi berihak pada detak berikut

aku yang tak lagi luka
jasad mengabu menjelma kunangkunang

sedang kau sendiri
menuntun air mata tuk memantulkan cahaya kunangkunang

ibadah sempurna

kita sembahyang bersama

aku dekatkan tubuhku di atas lembut sajadah tubuhmu
untuk kita memulai sembahyang yang sempurna
antara kau dan aku

mulutmu memuja nama tuhan
beriring desahan nafas memburu
isayarat mata regangkan jiwa

kau gadisku
ini pertama kalinya kita sembahyang dengan sempurna
memuja tuhan siklas nafsu
bukan surga
juga neraka
bukan dosa atau pahala
keiklasan sebagai puja
tidak dengan kesucian mereka

khusuk kau menikmati ibadah tak suci ini
sajadah tubuh menyempurnakan peran
ritual yang sebelumnya tidak kita kenal
darahmu menjadi sesaji yang kau relakan demi persembahan tuhan kita
tanpa prasangka
jauh pahala

sempurna sembahyang kita
di malam yang dipenuhi zikir manusia yang mengharap surga
kita tak mengharap apaapa
hanya keiklasan

sejenak kita tinggalkan kata


cinta yang sederhana (audipus complex)

awalnya sangat sederhana
pesan disampaikan mata
ingatan
hati mengambil peran
sangat sederhana

aku memujanya
tanpa prasangka
layaknya sangkuriang
hilang ingatan

tumbuh dengan sederhana

norma,
hukum dan agama
tak sesedarhana seperti mulanya
darah menjelma batas untuk menjadikan sempurna

cinta tak lagi sederhana

awal dari semua
tak ada prasangka
aku tak tahu harus mencintainya
seperti cinta sangkuriang pada paras tak dikenal dalam ingatan

sederhanakah ibu?


lelaki 2

kini ia mulai renta
memilah kenangan masa lalu
saat berbaring bersama senja
namun
yang tersisa hanya tumpukan luka

ia pun memilih mengakrapi luka bersama diri yang berbaring bersama senja

lelaki 1

malam yang gigil
ceritakan tentang kematian kepada lelaki

pesan yang disampaikan senyum
isyarat anggukan

malam yang gigil

dan
seutas tali menjadi abadi pada malamnya yang gigil

oh lelaki di malam yang gigil

ranjang
; joko pinurbo

ranjang kita tetap kumal dan bau ompol
saat tangis tanda kelahiran sajak terdengar dari balik kamar
hancurkan kerasnya batu yang memenuhi isi bantal
ranjang kita tetap reot dan asik mendendangkan lagu tertahan
diiringi irama ‘ngik,,ngik,,ngik,,’
saat sajakmu menari bersama rintihan tangis perawan yang baru satu jam kau kenal
juga ranjang kita yang menjadi saksi bagaimana sajakmu terlelap
dan dia dengan penuh sabar menunggu kokokan ayam jantan mengusap liur yang keluar dari sudut igaumu
kau masih saja setia merangkai kesialan ranjang yang entah sampai kapan menemani kenakalanmu mengurung sajak yang telah bosan bermain dengan isi kamar

suatu saat akan kucari sajakmu di kuburan

semarang, 30-11-2005

2 komentar:

Doa di Putik Kamboja mengatakan...

ediaan,.. romantis boos!,.
kowe iso sembayang to nang?(geleng2 kepala)
cekcekcek,..
kyai gubug nulis puisi.
salam hangat dari puisiku untuk puisimu

lanang wibisono mengatakan...

ha...3x