kepada musim
aku rindu kepakan kupu
dedaun ranggas meninggalkan kokoh ranting
aku rindu tentang musim
musim tak pasti dan suka melucu tentang hujan malam hari
kepada meth #1
bintang itu
dengan letak yang tak kuasa kita tata
tak mengerdipkan nyalanya
mengawasi setiap gerak kita yang semakin menjauh
menggores dunia
kepada meth #2
siapkan cahaya kunangkunang
untuk menerangi langkah kekasih
ketika cahaya tak lagi berihak pada detak berikut
aku yang tak lagi luka
jasad mengabu menjelma kunangkunang
sedang kau sendiri
menuntun air mata tuk memantulkan cahaya kunangkunang
ibadah sempurna
kita sembahyang bersama
aku dekatkan tubuhku di atas lembut sajadah tubuhmu
untuk kita memulai sembahyang yang sempurna
antara kau dan aku
mulutmu memuja nama tuhan
beriring desahan nafas memburu
isayarat mata regangkan jiwa
kau gadisku
ini pertama kalinya kita sembahyang dengan sempurna
memuja tuhan siklas nafsu
bukan surga
juga neraka
bukan dosa atau pahala
keiklasan sebagai puja
tidak dengan kesucian mereka
khusuk kau menikmati ibadah tak suci ini
sajadah tubuh menyempurnakan peran
ritual yang sebelumnya tidak kita kenal
darahmu menjadi sesaji yang kau relakan demi persembahan tuhan kita
tanpa prasangka
jauh pahala
sempurna sembahyang kita
di malam yang dipenuhi zikir manusia yang mengharap surga
kita tak mengharap apaapa
hanya keiklasan
sejenak kita tinggalkan kata
cinta yang sederhana (audipus complex)
awalnya sangat sederhana
pesan disampaikan mata
ingatan
hati mengambil peran
sangat sederhana
aku memujanya
tanpa prasangka
layaknya sangkuriang
hilang ingatan
tumbuh dengan sederhana
norma,
hukum dan agama
tak sesedarhana seperti mulanya
darah menjelma batas untuk menjadikan sempurna
cinta tak lagi sederhana
awal dari semua
tak ada prasangka
aku tak tahu harus mencintainya
seperti cinta sangkuriang pada paras tak dikenal dalam ingatan
sederhanakah ibu?
lelaki 2
kini ia mulai renta
memilah kenangan masa lalu
saat berbaring bersama senja
namun
yang tersisa hanya tumpukan luka
ia pun memilih mengakrapi luka bersama diri yang berbaring bersama senja
lelaki 1
malam yang gigil
ceritakan tentang kematian kepada lelaki
pesan yang disampaikan senyum
isyarat anggukan
malam yang gigil
dan
seutas tali menjadi abadi pada malamnya yang gigil
oh lelaki di malam yang gigil
ranjang
; joko pinurbo
ranjang kita tetap kumal dan bau ompol
saat tangis tanda kelahiran sajak terdengar dari balik kamar
hancurkan kerasnya batu yang memenuhi isi bantal
ranjang kita tetap reot dan asik mendendangkan lagu tertahan
diiringi irama ‘ngik,,ngik,,ngik,,’
saat sajakmu menari bersama rintihan tangis perawan yang baru satu jam kau kenal
juga ranjang kita yang menjadi saksi bagaimana sajakmu terlelap
dan dia dengan penuh sabar menunggu kokokan ayam jantan mengusap liur yang keluar dari sudut igaumu
kau masih saja setia merangkai kesialan ranjang yang entah sampai kapan menemani kenakalanmu mengurung sajak yang telah bosan bermain dengan isi kamar
suatu saat akan kucari sajakmu di kuburan
semarang, 30-11-2005
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

2 komentar:
ediaan,.. romantis boos!,.
kowe iso sembayang to nang?(geleng2 kepala)
cekcekcek,..
kyai gubug nulis puisi.
salam hangat dari puisiku untuk puisimu
ha...3x
Poskan Komentar