Jumat, 31 Oktober 2008

homo pasiens VS philosaurus


: dalam tulisan ini saya sengaja tidak menulis secara reportatif apalagi membahas adegan per-adegan.

bahwa aku adalah manusia purba yang suka coca-cola dan hotdog setengah matang yang berwarna oranye, itu tak dapat aku pungkiri ! yang jelas tak berkelamin pun aku tetap bisa melebur dalam hidup. pasti bukan hanya ada masalah ranting kering, suara seruling, buang air besar yang melepaskan pening, atau cahaya yang mendenting. lebih dari itu, aku adalah manusia purba yang cinta kepada retakan tanah sehabis kita menari dan bernyanyi di atasnya, sumpah ! itulah sinopsis cerita yang di bacakan sebagai pengan tar pertunjukan.

Roda gila dan kelab kelip bersaudara beberapa waktu lalu mementaskan pertunjukan dengan judul “homo pasiens VS philosaurus”, pertunjukan teater yang dapat dikatakan cukup spektakuler yang pernah saya tonton selama berada di Semarang, dengan konsep yang ringan, kritik/wacana yang cerdas dan beberapa peradeganan naskah yang tak terduga oleh saya sebelumnya. Roda gila dan kelab kelip bersaudara merupakan kelompok kesenian yang ada di Semarang, para anggotanya merupakan anak muda yang dengan sangat kritis berusaha membicarakan hal yang tidak remeh temeh (serius) dengan metode atau konsep yang dapat dikatakan remeh temeh. Mereka mengajak penonton pertunjukan untuk kembali mempertanyakan makna “kepurbaan” dengan kesepelean konsep peradeganan (jika berbicara tentang teori dramaturgi). Dengan konsep pertunjukan yang ringan dan disisipi adegan-adegan lucu khas kelucuan orang purba yang kagum terhadap kemajuan peradaban yang tak pernah ditemui didunia maupun massanya, pertunjukan ini sebenarnya tersisip kritik yang sangat tajam, cerdas dan dalam tentang moderenitas dan kepurbaan yang dipercayai masyarakat, khususnya generasi muda (maaf saya menyalahkan generasi). Namun kritik tersebut diungkapkan dalam pertunjukan yang sepele, remeh temeh dan keseharian banget.
Kritik dalam pertunjukan kali ini tertuju pada perkembangan generasi muda yang sangat menghambakan kata sifat “modern” namun bingung saat ditanya mana yang tidak modern, sehingga dengan gampang dan tanpa mau berusaha hanya memberi gambaran tentang masa lalu dan permasalahan ini menjadi tanggung jawab waktu. Permasalahan tentang waktu inilah yang coba diangkat oleh roda gila dan kelab kelip bersaudara dalam pertunjukannya.

Kepurbaan
Waktu yang dimaknai sebagai tugu atau tolak ukur suatau peradapan, dibebani tanggung jawab yang besar dalam permasalahan kepurbaan, moderenitas dan peradaban sendiri. Namun benarkah masalah kepurbaan, moderenitas dan peradaban hanya dibebankan tanggung jawabnya kepada waktu saja? Padahal dalam kenyataannya peradaban manusia tidak hanya dipengaruhi oleh waktu saja. Ada peranan komunitas atau kelompok yang sangat berperan dalam permasalahan peradaban, kepurbaan maupun kemoderensasian, dimana kelompok atau komunitas itulah yang menentukan soal maju tidaknya suatu peradaban masyarakat di zamannya dengan kesempatan. Jika waktu ditiadakan maka apa yang terjadi dalam dunia ini? Yang semua akan berkumpul bersama dimana lintas apa yang dikatakan sebagai waktu? Mungkin pertanyaan sepele ini terlihat tak masuk akal kelihatannya, namun hal seperti inilah yang sedang terjadi di sasat ini yang ada di dunia ini. Maksudnya permasalahan waktu telah ditiadakan oleh peradaban itu sendiri. Dalam kenyataannya dimana pada waktu yang bersamaan saat ini beberapa komunitas/kelompok di disuatu kelomp[ok tertentu telah dibantu oleh kemajuan teknologi yang canggih sementara dibagian yang lain ada komunitas/kelompok yang masih sangat tradisional dan tidak di dukung oleh kemajuan teknologi. Hal itu dapat kita contohakan dimana beberapa Negara maju telah menggunakan fasilitas teknologi canggih seperti Amerika, Prancis, Jepang di satu sisi sementara di sisi lain dalam waktu yang bersamaan masyarakat/suku pedalaman orang masih dalam kondisi yang sangat berbeda yaitu masih berburu dengan menggunakan panah, tombak bahkan mereka masih menggunakan pakaian seadanya (bahkan belum mengenal konsep pakaian) dan komunikasi antar kelompok sangatlah jauh dengan tekniologi yang dipakai oleh orang-orang Amerika, Perancis, Jepang maupun Inggris.
Ironis mamang, sedikit janggal mungkin namun itulah adanya. Dan kejanggalan ini semata-mata tidak dapat diberikan tanggung jawab sepenuhnya oleh waktu. Jika berbicara tentang kepurbaan, moderenitas dan peradaban tidak hanya persoalan waktu saja, namun ada suatu hal lain diluar waktu yaitu kesempatan yang tidak dimiliki oleh suatu kelompok tertentu.
Kesempatan untuk apa? Lalu bagaimana peran waktu? Kesempatan dalam hal memanfaatkan waktu, hal itu dikarenakan oleh kemampuan meninggalkan dan mencari sesuatu. Mereka yang tidak mempunyai kesempatan itu masih mengambil begitu saja apa yang ada. Bukan suatu kesalahan memang, ini merupakan ketidakberdayaan. Mereka yang mencari tidak berdaya dengan apa yang ada, sedangkan mereka yang mengambil tidak berdaya membiarkan apa yang ada. Sedangkan waktu berposisi menjadi suatu kesempatan bagi kelompok/komunitas tertentu, ia bersifat terpisah-pisah tidak berpengaruh secara Universal, dan ia hanya berpengaruh di dalam komunitas tertentu saja. Sedangkan apa yang dikatakan sebagai ketertinggalan kelompok lain merupakan kesempatan yang tidak dimiliki oleh komunitas tersebut.
Mungkin wacana atau keresahan semacam itu yang coba diangkat oleh roda gila dan kelab kelip bersaudara dalam pertunjukannya. Sebuah keresahan dan isu yang sangat cerdas. Sayang dalam penyelenggaraan pertunjukan kali ini yang diselenggarakan di joglo UNNES Semarang dilihat dari kuantitas penonton kurang begitu berhasil, hal ini dikarenakan publikasi yang dilakukan penyelenggara sangat kurang, sehingga tidak banyak penonton yang memenuhi ruang pertunjukan. Sebagian penonton merupakan mahasiswa baru UNNES Semarang yang notabenya kurang akrab dengan pertunjukan-pertunjukan teater khususnya kontenporer (kalau tidak bisa dikatakan kontenporer ya yang agak mikir dikitlah…) semacam ini, yang kritiknya banyak tersembunyi dalam symbol maupun peradeganan bentuk, sehingga respon pun kurang begitu nampak. Dan apa yang coba disampaikan oleh roda gila dan kelab kelip bersaudara kurang begitu menegena dan kurang dapat dicerna dengan baik oleh penonton (maaf jika saya merendahkan kualitas penonton).

puisi

pejantan

esok ketika kokokan terhenti dengan sentuhan harap kepuasan majikan
aku titipkan kandang bambu
untuk kau jaga saat maut menunggu di culas tawa para petaruh

disana
suamimu akan menunjukan pada penjudi
bahwa dirinyalah lelaki yang berhak mengawini istrinya tanpa ikatan
menitipkan benih jagoan
untuk kelak meneruskan kelelakian ayahnya

di lingkaran sabung penuh para pendosa
suamimu tak dapat berkompromi dengan kejantanan yang dibanggakan sesamanya
harus menikam mengantarkan sesama pada maut yang menunggu
hanya karena kesombongan atas kelelakian
tujuan lengking kokokan.
dada yang tegak diharap menjadi pertanda pengantar pesan maut pada pejantan yang mendekati dalam lingkaran pendosa.

jika suamimu pulang kekasih
dengan kokokan penuh wibawa
bersihkanlah darah yang menetes dari jejak taji ditubuhnya
sembuhkanlah luka dengan abu yang menandakan kelelakian demi sebuah kesombongan pejantan.
dan
siapkanlah teriakan lapar para jagoan kecil yang kutitipkan dalam cangkang telurmu
jika nanti lelaki yang berhadapan dalam lingkaran sabung mengirimkan pesan maut yang menunggu dengan tawa culasnya.

dia pejantan yang dihadapanku
sama seperti suamimu
tak pernah tau tentang kecemasan kandang bambu yang ditinggalkan bersama harapan para babon dan khuthuk kecil
tawa bangga para penjudi sebagai bukti dialah pejantanan
yang berhak menemui jagoan kecil dalam cangkang telur istriistrinya

2008


waiting room
;inspired by sony

mungkin batu setiap hari menjadi tempat bercerita banyak hati.
bahkan kekasih
setiap pagi menunggu seseorang mengantar kertas kosong sampai di kotak posnya

2008


waiting room 1

kabar berhamburan seperti hujan
petirpun mengabarkan tentang duka
esok saat matahari menyapa embun
kumbang dan kupu menawarkan pesona kepada pagi

namun luka terlanjur menganga
hanya susunan batu tegak menjadi prasasti untuk dirinya yang ingin mengabu bersama api

2008

waiting room 2

sejenak tutuplah mata itu kekasih
agar kupu dapat singgah dan menitipkan kepongpongnya diranting yang mulai rapuh.
mencipta kenangan
mewarnai hari yang telah menghitam dalam dekapan gelap

kekasihmu yang telah menjelmakan dirinya pada kunangkunang
setiap gerak bintang yang semakin menjauh
menjagamu dari tikaman gelap dengan cahaya seadanya.
dari bawah susunan batu
ia berharap
matamu dapat tertutup untuk segera menemui mimpi yang akan merekahkan senyum.
senyum yang menerangi gelapnya jiwa kekasih yang telah mengabu
agar dapat menjelmakan dirinya pada matahari

2008

de javu

kita pernah bertemu
disaat hari belum melahirkan matahari
disaat kokokan pejantan sebagi akhir dari cerita
tak perlu mengeja jejak
biarkanlah pertemuan kita sebagai pertanda
bahwa ada hati yang saling sapa
disana

2008

de javu 1

waktu seakan hadir begitu saja
berkompromi dengan masa lalu
berusaha menjelaskan kepada ingatan
menyembunyikan dirinya pada gelap.

ah waktu
mungkin kau bukanlah ibu dari masa lalu
hanya konspirasi dari kecurigaanku tentangmu

2008





I love u

kekasihku
tancapkanlah pisau tepat di hatimu

2008




i love u #1984

ku kirim mawar plastik agar tak layu.
hari ini atau esok tanganmu terbuka
menerima tanpa rasa

ada yang menghianati seperti malam yang diamdiam rindu pada api

2008




malam fitri

kita telah kehilangan tanda
bintangbintang hilang peran
rembulan jejak beda cahaya

malam yang dikhianati musim terlalu dingin
basah
ketika kemarau seharusnya berada dalam dekapan
untuk memulai percintaan
sebagai musim kawin yang hangat
menghangatkan jasad
menangisi sepi dengan bahagia

bintangbintang kehilanangan tanda
saat bocah dengan tangis menghentak dingin
tuk bergegas mengawali musim kawin

2008



selamat tinggal

seperti bisu
sedangkan aku tak dapat berkata apaapa

apa yang kau ucapkan
saat kau tinggalkan
yang paling kau cintai

seperti bisu aku

2008