
Semalam istriku asik bercakap-cakap dengan televisi yang berdarah, televisi yang meledak tabungnya. Mereka bercakap-cakap tentang apa saja, bahkan gosip murahan yang membuat mual perutku. Aku muntah darah waktu beranjak tidur karena sebelumnya menemani istriku makan malam di dalam televisi. Setelah bangun kulihat sisa muntahanku berisi semua yang telah busuk dan tak layak untuk dimakan seorang tolol sekalipun. Ada lagu busuk, ada berita basi dan ada gerobolan tolol, latah di kampus, semua itu bercampur darah dan nanah dari perutku, namun mereka tampak cantik, tampan dan menarik dari mata yang hampir ditinggalkan kesadarannya.
Pagi ini televisi itu meledakkan bom fosfor di rumahku, membuat istriku terbakar murkanya. Ia marah-marah tak karuan sambil mengumpat apa saja yang dapat ia umpat, bahkan aku yang mencoba menenangkan amarahnya. Televisi memancing dan memanasi juga terus saja membuat istriku bertambah beringas. Dengan membuat ia marah, televisi sebenarnya juga membuat aku jengkel karena aku ikut didamprat istriku sebagai imbas amarahnya kepada entah yang dia anggap layak untuk dikutuk.
Aku tanyakan kepada istriku yang baru saja melemparkan remote control ke mukaku “siapa yang kau kutuk?” ia menjawab “mereka para binatang yang telah membuat gaduh rumah kita!!!”
Siapa yang sebenarnya sedang membuat gaduh di rumahku?? Karena di dalam rumah ini hanya ada aku, istriku dan televisi yang dari tadi malam bersenggama dengan istriku tanpa membuat aku cemburu. Siapa yang disebut istriku sebagai binatang? Apa aku?
Ah aku tak mau menangapi pernyataan istriku yang sedang kambuh penyakit “marah”nya. Dari tadi ia hanya mengumpat sampai lupa membuatkanku sarapan. Dimeja makan dia masih saja menghidangkan televisi yang lebih besar dari tadi malam. Aku dipaksa untuk memakannya, katanya ada menu yang bagus dan harus aku cicipi. Ada daging terbakar sisa pembantaian di dalam televisi. Daging anak-anak, perempuan dan warga sipil yang menginginkan kedamaian, karena agama katanya. Tapi siapa yang membantai mereka dan menguburnya di televisi? Ah pasti hanya mereka para (yang seolah-olah) bijak yang menginginkan kekuasaan. “Ada agama disana!!!” kata istriku. Agama yang mana??? Perasaan hanyalah para bijak yang berebut tulang sisa makanan bule inggris di restoran. “Tak kulihat agama disana” kataku. Hanya memang televisi terus saja bercerita dan membodohi istriku dengan bisikan yang seolah-olah doa.
Kulihat di televisi sekarang tayangan film kartun Tom and Jerry. Cerita tentang anjing dan kucing yang selalu bertengkar dengan segala alasan. Tom yang selalu menggunakan histori hegemoni penguasa seekor kucing atas binatang kecil seperti tikus, sementara Jerry dengan kelicikan khas binatang mengerat mencoba membodohi siapa saja yang berusaha menangkapnya, dengan akalnya tentu. Namun ada satu alasan yang membuat Tom dan Jerry saling beradu fisik daerah kekuasaan dan makanan! Hanya itu alasan mereka kenapa mereka selalu berhadapan sebagai lawan. Sejararah sempat memanipulasi cerita Tom dan Jerry sebagai pertemuan baik dan buruk, tapi itu hanyalah kamuflase cerita yang dibawa televisi kerumahku. Dan cerita itu yang dipercaya oleh istriku sehingga ia dengan segala amarahnya mengutuk apa yang dia anggapnya buruk, menurut ketololannya tentu.
Pagi ini aku berangkat kerja tanpa sarapan, aku meninggalkan rumah hanya berbekal rasa jengkel melihat kebodohan istriku yang tolol karena mau dibodohi dengan bualan murahan. Rasa jengkel itu bercampur dengan muak yang disebabkan televisi yang terus saja menayangkan cerita murahan yang sebenarnya telah usang. Cerita tentang perebutan makanan dan kekuasaan. Maka sebelum aku berangkat keluar rumah kutuliskan sebuah catatan kecil di meja makan, yang berbunyi:
Istriku yang sedang kau lihat di televise hanya film kartun Tom and Jerry, tidak ada yang benar dan yang salah, tidak ada yang berhak kamu bela. Karena itu bukan soal kepercayaan atau agama. Mereka (kata temanku) hanya dua ekor binatang yang merebutkan kekuasaandan makanan dengan mengorbankan orang yang tak tahu apa-apa seperti kau. Yang harus kamu pikirkan saat ini hanyalah soal para suami, anak dan mereka yang tak lagi dianggap sebagai dirinya yaitu manusia, dan banyak tetanggamu yang sama seperti aku, tak sarapan pula. Mungkin karena istrinya tak membuatkan sarapan atau kerena memang tak mampu membeli makan. Ada hal yang lebih penting dari sekedar provokasi televisi yang membohongimu atas nama agama. Ya KEMANUSIAAN. Mereka yang kau lihat di layar televisi, mereke yang terbaring tanpa nyawa hanyalah korban kebiadaban binatang seperti Tom and Jerry yang mengorbankan manusia karena keserakahannya berebut daerah kekuasaan dan makanan tanpa memikirkan bahwa mereka adalah mahluk hidup yng punya hak untuk hidup dan mereka yang jadi korban adalah MANUSIA. Sama halnya dengan anak-anak kita yang terkorbankan karena orang tuanya sibuk berakrap ria dengan segala yang ditawarkan televisi, kita terjebak di dalam ruang yang sempit yaitu ruang kebodohan kita. Aku berangkat bunuh diri dulu.
Istriku masih saja berkelahi dengan dirinya sendiri di dalam TV.

0 komentar:
Poskan Komentar